Pamijahan | Kabupaten Bogor – Wali murid SMP Negeri 1 Pamijahan, Kabupaten Bogor, mempertanyakan kejanggalan dalam pembagian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirapel untuk tiga hari, Senin hingga Rabu, pada awal Maret 2026.

Dalam daftar menu yang dibagikan oleh SPPG Pamijahan Pasarean, tercantum bahwa setiap siswa seharusnya menerima tiga roti, dua potong tempe, satu buah kurma, satu buah apel, dua kotak susu UHT kecil, serta tiga butir telur ayam.
Namun, saat paket makanan diterima, jumlah roti yang diberikan hanya dua potong.
“Di kertas menu jelas tertulis roti tiga pcs, tapi anak saya cuma dapat dua. Kami jadi bingung, ini salah hitung atau memang dikurangi,” kata salah satu wali murid kepada wartawan, Selasa.
Ia menambahkan, pembagian menu yang dirapel untuk tiga hari seharusnya sesuai dengan daftar yang telah diumumkan sebelumnya agar tidak menimbulkan kecurigaan di kalangan orang tua siswa.
Menurutnya, ketidaksesuaian antara menu tertulis dan paket yang diterima dapat memicu asumsi negatif jika tidak segera dijelaskan oleh pihak terkait.
“Kalau memang ada perubahan, seharusnya diberi tahu. Jangan sampai orang tua merasa ada yang disembunyikan,” ujarnya
Wali murid lain juga menyampaikan hal serupa. Ia mengaku anaknya menerima menu yang sama seperti siswa lain, dengan jumlah roti yang tidak sesuai dengan daftar.
“Semua isinya sesuai kecuali roti. Hanya dua, padahal harusnya tiga,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari SPPG Pamijahan Pasaran terkait perbedaan jumlah roti dalam paket MBG tersebut.
Wali murid berharap ada klarifikasi agar ke depan pembagian menu lebih transparan dan sesuai dengan daftar yang telah diumumkan.
Putra Jaya Sukma Sekjen Lembaga Survey Kepuasan Masyarakat akan melaksanakan survey digital dan membuat pengaduan khusus program mbg agar program mbg Sukses dan Lancar.
Dari temuan yang ada Lembaga Survey Kepuasan Masyarakat akan melaporkan SPPG yang bermain curang pengurangan porsi. Laporankan kepada Dinas terkait dan Badan Gizi Nasional Pusat. “ucap Sukma”
















