BOGOR – Ribuan warga memadati Kampung Wisata Cihideung Karamat, Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor pada Minggu (21/6/2026). Kehadiran hampir 1.000 orang ini dalam rangka merayakan tradisi Muharoman Sedekah Bumi yang mengusung tema mendalam: “Indung Tunggul Rahayu, Bapa Tangkal Darajat”. Perayaan ini menjadi momentum syukur, kepedulian sosial, sekaligus penguatan spiritualitas budaya Sunda yang berlangsung meriah.
Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh pemuda dan organisasi kemasyarakatan. Tampak hadir Ketua PK KNPI Dramaga Muhamad Syukron Anugrah beserta jajaran pengurusnya, serta Ketua MPC Pemuda Pancasila Suhendar yang datang bersama personel Komando Inti (Koti). Kehadiran para tokoh ini menegaskan dukungan penuh elemen pemuda terhadap pelestarian adat istiadat di wilayah Dramaga.
Dalam sambutannya, Ketua PK KNPI Dramaga Muhamad Syukron Anugrah mengapresiasi tinggi keterlibatan generasi muda dalam acara adat ini.
“Kami dari KNPI sangat bangga melihat pemuda dan masyarakat bersatu menjaga tradisi. Muharoman Sedekah Bumi ini bukti bahwa modernisasi tidak menghilangkan identitas budaya kita di Dramaga. Ini harus terus didukung sebagai aset wisata budaya,” ujar Muhamad Syukron Anugrah.
Senada dengan hal tersebut, Ketua MPC Pemuda Pancasila Suhendar yang hadir mengawal jalannya acara bersama Komando Inti juga menyampaikan dukungannya terhadap kekompakan warga.
“Kehadiran Pemuda Pancasila di sini adalah bentuk komitmen kami untuk menjaga kelestarian budaya bangsa. Kami siap mengawal dan bersinergi dengan masyarakat dalam setiap kegiatan positif yang memperkuat rasa gotong royong seperti ini,” tegas Suhendar.
Kolaborasi Seni Budaya, Religi, dan Gotong Royong Warga
Nafas tradisi yang dipadukan dengan nilai-nilai religius terasa sangat kental berkat peran aktif para penggerak lokal. Ustadz Refan, tokoh yang konsisten menggerakkan seni budaya dan keislaman, memimpin langsung Sanggar Karamat Purwasari bersama sang adik, Ustadz Perdi. Kolaborasi keduanya mampu menyajikan harmoni seni islami dan budaya Sunda yang memukau para pengunjung.
Keberhasilan perhelatan akbar ini juga tidak lepas dari kepemimpinan Ketua RW Ening yang bersinergi erat dengan empat Ketua RT di wilayahnya, yaitu RT Nurdin, RT Hendi, RT Sahata, dan RT Sukanta. Mereka tampak sangat bahagia dan antusias mengorkestrasi warganya, mulai dari tahap persiapan yang menguras energi hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan dengan zero accident.
Lebaran Yatim dan Berkah Doa yang Terwujud
Salah satu agenda utama yang menyentuh hati dalam perayaan kali ini adalah “Lebaran Yatim Piatu”. Kepedulian sosial masyarakat Cihideung Karamat menunjukkan peningkatan luar biasa. Pada tahun ini, donasi yang terkumpul mencapai lebih dari Rp23 juta, melonjak signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di angka Rp17 juta lebih.
Keberkahan perayaan Muharoman ini juga mengingatkan warga pada keajaiban doa tahun lalu. Salah satu doa besar yang dipanjatkan pada Muharoman tahun lalu kini telah mewujud nyata, yaitu pembangunan jembatan penghubung antara Cihideung Karamat dengan Situdaun yang kini berdiri kokoh dan membuka akses mobilitas warga.
Harapan Tahun Ini: Menjaga “Metadata” Sunda dan Filosofi Tritangtu
Pada momen sakral tahun ini, masyarakat kembali melangitkan doa dan harapan besar. Fokus utama doa tahun ini adalah terwujudnya pembangunan fisik Area Situs Cihideung Karamat. Pembangunan ini dinilai krusial agar “Metadata” dalam literasi kehidupan masyarakat Sunda tetap terjaga dan tidak hilang ditelan zaman.
Selain itu, dipanjatkan pula doa mendalam bagi keberlangsungan kepemimpinan masa depan. Warga berharap para Pemimpin Muda saat ini dapat terus dibersamai dan dituntun oleh para Resi (pemimpin spiritual/intelektual) dan para Rama (pemimpin masyarakat/orang tua). Harapan ini merujuk pada konsesi luhur tatanan Sunda kuno, yaitu Tritangtu (Rama, Resi, Ratu), demi terciptanya kepemimpinan yang bijaksana, kokoh, dan berkarakter.
Kehadiran Tokoh Pemuda dan Lintas Sektor
Acara ini juga menjadi panggung berkumpulnya para pemimpin muda potensial dari berbagai wilayah dan sektor. Salah satunya adalah kehadiran Enjang, Tokoh Pemimpin Muda dari Sempur Kaum. Enjang merupakan buyut dari Abah Amat, sosok tokoh karismatik asal Petir yang telah berpulang beberapa bulan lalu. Kehadiran Enjang dinilai membawa semangat perjuangan dan ketokohan leluhurnya.
Beserta dirinya, tampak hadir Dadi Rosadi yang merupakan Tokoh Pemimpin Muda asli Purwasari, serta Ubaidillah dari Kelompok Petani Milenial yang membawa representasi generasi muda di bidang agrikultur. Sektor pariwisata pun turut ambil bagian dengan hadirnya Ruslan selaku perwakilan dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Purwasari.
Jejak Sejarah Perjuangan Bangsa
Selain sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi, momentum ini juga menjadi ajang untuk mengingat kembali sejarah besar yang melatari wilayah tersebut. Muallim Dasuki, selaku Sesepuh dan Tokoh Masyarakat Cihideung Karamat, membeberkan nilai historis mendalam yang dimiliki oleh Situs Cihideung Karamat. Menurutnya, tempat ini bukan sekadar area sakral, melainkan saksi bisu perjuangan kemerdekaan.
“Situs Cihideung Karamat ini memiliki rekam jejak yang kuat di zaman perjuangan dulu. Tempat ini menjadi titik kumpul dan ruang diskusi penting bagi para pejuang serta ulama-ulama terdahulu dalam menyikapi berbagai persoalan krusial, baik yang menyangkut wilayah lokal maupun urusan pertahanan negara,” ungkap Muallim Dasuki di sela-sela acara.
Antusiasme Warga dan Komunitas Budaya
Kemeriahan acara semakin terasa dengan kehadiran komunitas pelestari sejarah. Di antaranya adalah Komunitas Napak Tilas Peninggalan Budaya yang dipimpin oleh Kang Hendra, serta Komunitas Jas Merah besutan Abah Iwan dari Cihideung Udik.
Warga dari 4 RT di wilayah setempat bahu-membahu menyukseskan acara. Mereka datang berbondong-bondong membawa aneka makanan, minuman, serta Dongdang hasil kreasi unik masing-masing RT. Dongdang-dongdang yang berisi hasil bumi tersebut dihias sedemikian rupa sebagai simbol keberkahan dan kesejahteraan tanah Cihideung.
Peluncuran Batik Khas dan Buku Sejarah
Momen penting dalam perayaan tahun ini adalah peluncuran identitas budaya baru Kampung Wisata Cihideung Karamat. Dua motif batik khas resmi diperkenalkan kepada publik, yaitu:
* Batik Arey Karamat
* Batik Hurang Cai Sumber
Kedua motif ini mengangkat kearifan lokal dan kekayaan alam yang menjadi ciri khas wilayah setempat. Selain kain batik, acara ini juga meluncurkan sebuah karya literasi penting berjudul “Buku Muharoman Sedekah Bumi Kampung Cihideung Karamat; Catatan Perjalanan Saepul Adha 1446-1448 H / 2025-2026 M”. Buku ini mendokumentasikan perjalanan spiritual, budaya, dan dinamika sosial masyarakat Cihideung selama dua tahun terakhir.
Kegiatan berjalan dengan khidmat dan tertib, memperkuat posisi Kampung Cihideung Karamat sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang mandiri dan berkarakter di Kabupaten Bogor.


















